Columbian Exchange: Pertukaran Komoditas Antarbenua

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on email

Mendaratnya Christopher Columbus di Benua Baru, Amerika, menandai bertemunya 2 dunia biologis yang berbeda. Benua Amerika sebelumnya terisolasi dari Afro-Eurasia kembali terhubung setelah terpisahkan akibat pergerakan lempeng bumi. Selama puluhan juta tahun lamanya, organisme-organisme berevolusi secara terisolir antara satu sama lain. Setelah pendaratan Columbus, hewan, tumbuhan, dan bakteri dari dua dunia ini mulai bercampur kembali dalam sebuah proses yang kita sebut dengan Columbian Exchange.

Istilah Columbian Exchange pertama kali digunakan tahun 1972 oleh sejarawan Amerika Serikat bernama Alfred W. Crosby. Ia menggunakan istilah ini pada bukunya yang berjudul The Columbian Exchange untuk menjelaskan proses pertukaran antarbenua ini. Columbian Exchange merupakan penyebaran dan pertukaran secara luas tumbuhan, hewan, budaya, populasi manusia, teknologi, penyakit, dan bahkan gagasan antara Amerika dan Dunia Lama (Afro-Eurasia) pada abad ke-15 dan ke-16. Percampuran ini mengubah kondisi biologis di kedua dunia dan bahkan mengubah tatanan hidup manusia hidup hingga saat ini.

Pelayaran Christopher Columbus

Pada abad ke-15 hingga ke-16, para pemimpin dari beberapa bangsa Eropa mulai membiayai ekspedisi pelayaran ke berbagai wilayah dunia. Pada masa ini, hampir tidak mungkin mencapai Asia dari Eropa melalui jalur darat. Rutenya panjang dan sulit, serta memiliki potensi bahaya yang tinggi. Oleh karena itu, jalur alternatif dibutuhkan untuk menggantikan rute daratan yang tidak lagi aman. Penjelajahan bangsa Eropa dimulai dengan penemuan kepulauan Madeira dan Azores di Samudera Atlantik oleh bangsa Portugis pada 1419 dan 1427. Afrika Barat mulai terjangkau pada 1434 dan pada akhirnya, Vasco da Gama menemukan jalur pelayaran dari Eropa menuju India pada 1498.

Berbeda dengan penjelajahan Portugis sebelumnya, Columbus berniat untuk mencapai Asia dengan berlayar ke arah barat sebagai gantinya. Pada 1492, Raja Ferdinand dan Ratu Isabella dan Spanyol bersedia untuk membiayai penjelajahan Christopher Columbus. Namun, alih-alih mencapai Asia, armada Columbus mencapai benua Amerika.

Rute pelayaran Columbus
Sumber: Wikimedia Commons

Pelayaran Columbus menandai awal dari penjelajahan dan kolonialisme selama berabad-abad di Amerika Utara dan Selatan. Dampak utama dari perjalanan Columbus adalah pertukaran komoditas antara Dunia Lama (Eropa) dan Dunia Baru (Amerika). Berbagai komoditas dari Eropa dibawa ke benua Amerika oleh para penjelajah awal dan sebaliknya, berbagai komoditas dari Amerika juga dibawa pulang ke daerah asal mereka.

Pertukaran Spesies Hewan dan Tumbuhan

Pertukaran spesies-spesies hewan dan tumbuhan yang terjadi mulai masa ini berpengaruh sangat besar pada pola hidup manusia kedepannya, baik di benua baru Amerika maupun di Afro-Eurasia. Kontak antara dua wilayah ini menyebabkan pertukaran berbagai komoditas hasil bumi dan ternak baru yang juga berkontribusi meningkatkan populasi manusia di kedua benua.

Peta dampak columbian exchange
Sumber: OpenStax

Berbagai komoditas flora dan fauna disebarluaskan antara Amerika dan Afro-Eurasia. Jagung, tomat, cabai, tembakau, kentang, singkong merupakan contoh spesies asli Amerika yang kemudian menjadi komoditas pangan penting bagi negara-negara di Dunia Lama. Bahkan, beberapa komoditas asli benua Amerika saat ini menjadi bagian penting bagi budaya lokal di Eropa dan Asia. Bangsa Italia tidak akan memiliki pizza tanpa tomat yang berasal dari benua Amerika. Begitu pula dengan cabai yang saat ini menjadi bagian penting dari budaya kuliner di India.

Tanaman Pangan

Perdagangan komoditas baru akibat columbian exchange menyebabkan sejumlah tanaman asli Amerika telah menyebar ke seluruh dunia. Hingga abad ke-15, budidaya kentang hanya dikenal di Amerika Selatan. Pada abad ke-19, komoditas kentang sudah dibudidayakan dan dikonsumsi secara luas di Eropa dan telah menjadi komoditas penting di India dan Amerika Utara. Kentang akhirnya menjadi makanan pokok yang penting di sebagian besar wilayah Eropa, berkontribusi pada sekitar 25% pertumbuhan populasi di Afro-Eurasia antara tahun 1700 dan 1900.

Hal serupa juga terjadi pada komoditas lainnya. Jagung dan singkong yang diperkenalkan oleh Portugis dari Amerika Selatan pada abad ke-16, secara bertahap menggantikan sorgum dan millet sebagai makanan pokok masyarakat Afrika. Pada abad ke-16 bangsa Spanyol juga memperkenalkan tanaman jagung dan ubi jalar ke Asia yang berkontribusi besar pada pertumbuhan populasi di Asia.

Cash Crop

Columbian exchange menjadi babak baru dari perdagangan komoditas-komoditas bernilai jual tinggi yang biasa disebut dengan cash crop. Tebu dan tembakau merupakan dua komoditas terpenting di perdagangan Atlantik pada masa itu.

Pada era kolonial, perdagangan gula bisa dibilang sama pentingnya dengan minyak bumi pada perdagangan global saat ini. Bangsa-bangsa Eropa saling berlomba-lomba untuk membangun perkebunan gula di benua Amerika dan bahkan saling berperang untuk mengontrol produksinya. Columbus membawa komoditas gula ke Hispaniola pada tahun 1493, dan tanaman baru tersebut tumbuh subur disana. Selama berabad-abad berikutnya, kepulauan-kepulauan Karibia dan sebagian besar wilayah tropis lainnya menjadi pusat produksi gula yang juga meningkatnya permintaan akan tenaga kerja budak Afrika.

Segitiga atlantik
Sumber: Wikimedia Commons

Tembakau juga menjadi komoditas cash crop penting bagi perdagangan lintas Atlantik pada masa ini. Masyarakat Eropa sebelumnya tidak mengenal tembakau sampai tahun 1492. Pada awalnya, para penjelajah Spanyol awal memiliki stigma negatif terhadap tembakau. Penggunaan tembakau oleh penduduk asli dianggap bukti dari kebiadaban mereka.

Penduduk asli Amerika telah menanam tembakau untuk tujuan pengobatan dan ritual selama berabad-abad sebelum bersinggungan dengan bangsa Eropa. Mereka percaya bahwa tembakau dapat meningkatkan konsentrasi dan meningkatkan kebijaksanaan. Bagi beberapa orang, tembakau bahkan menjadi bagian dari spiritualitas mereka.

Walau pada awalnya membawa stigma negatif, penjelajah Eropa lama-kelamaan mengikuti kebiasaan merokok masyarakat Amerika, dan membawanya pulang ke seberang Atlantik. Masyarakat Eropa kemudian menganggap tembakau memiliki khasiat obat, mengklaim bahwa tembakau dapat menyembuhkan sakit kepala dan iritasi kulit. Meski begitu, masyarakat Eropa belum mengimpor tembakau dalam jumlah besar hingga tahun 1590-an. Selanjutnya tembakau menjadi bagian penting dari perdagangan dunia.

Hewan Ternak

Pertukaran hewan ternak yang terjadi pada masa ini cenderung bersifat satu arah, dari Afro-Eurasia ke Amerika. Hal ini dikarenakan peradaban di Eurasia telah mendomestikasi jauh lebih banyak hewan ternak dibandingkan peradaban di Amerika. Pada pelayaran keduanya, Christopher Columbus membawa babi, sapi, ayam, dan kuda ke kepulauan Karibia. Berbagai jenis hewan ternak dengan cepat digunakan oleh penduduk asli untuk transportasi, makanan, dan keperluan lainnya.

Salah satu ekspor Eropa pertama ke Amerika, kuda, mengubah kehidupan banyak suku asli Amerika. Beberapa suku pegunungan beralih ke gaya hidup nomaden, menggantungkan hidup dengan berburu bison dengan menunggang kuda. Sebagian besar dari mereka meninggalkan pertanian sedenter. Budaya berkuda diadopsi secara bertahap di Indian Great Plains. Suku-suku yang ada dapat memperluas wilayah mereka berkat penggunaan kuda. Berkat daya gunanya, kuda dianggap sangat berharga sehingga kepemilikan kuda dapat dianggap menjadi salah satu ukuran kekayaan.

Hewan ternak seperti babi dan sapi yang dibawa dari Dunia Lama juga menjadi populer di Amerika. Perkembangbiakannya yang cepat dapat mempermudah dalam memenuhi kebutuhan kalori masyarakat.

Penyebaran Penyakit

Selain komoditas tanaman dan hewan ternak, penyebaran penyakit menular juga menjadi efek samping dari pertukaran anterbenua ini. Penjelajah dan pedagang Amerika, Afrika, dan Eropa tanpa disadari membawa serta mikroba, bentuk kehidupan yang sunyi dan tak terlihat yang memiliki konsekuensi yang sangat menghancurkan. Diperkirakan lebih dari 80–95 persen populasi penduduk asli Amerika meninggal akibat epidemi dalam 100–150 tahun pertama setelah 1492. Bahkan, banyak wilayah Amerika kehilangan 100% penduduk asli mereka.

Penduduk asli Amerika tewas akibat berbagai jenis penyakit yang dibawa oleh manusia dari Eurasia dan Afrika. Evolusi yang berbeda selama ribuan tahun membuat Dunia Lama dan Dunia Baru memiliki lingkungan yang berbeda. Virus smallpox, campak, dan tifus sebelumnya sudah sangat umum menyebar di Dunia Lama sehingga masyarakat Eropa memiliki kekebalan alami terhadap penyakit-penyakit ini. Penduduk asli Amerika tidak memiliki imunitas yang sama sehingga dampaknya sangat destruktif ketika virus tersebut menjangkiti mereka. Penyebaran wabah smallpox menjadi faktor utama keruntuhan demografis di benua Amerika.

Penyebaran penyakit tidak hanya berjalan satu arah, salah satu penyakit asli Amerika yang menjangkiti masyarakat Eropa adalah Sifilis. Sifilis merupakan penyakit menular seksual mematikan yang dibawa dari Amerika ke Eropa. Sifilis disebarkan melalui kebiasaan seks bebas pelaut selama mengarungi Atlantik, dan kemudian menyebar ke seluruh Eropa serta Dunia Lama.

Migrasi Pemukim Pendatang dan Budak

Peta koloni amerika utara
Sumber: Wikimedia Commons

Migrasi manusia menjadi faktor yang juga dominan dalam columbian exchange. Kedatangan penjelajah Eropa dan pendirian koloni-koloni di Dunia Baru membuat populasi penduduk asli Amerika semakin terdesak. Benua Amerika menjadi arena perebutan kekuasaan bagi kerajaan-kerajaan Eropa dan koloni-koloni mereka. Berbagai perang, pemberontakan, dan revolusi kemudian membentuk sejarah benua Amerika Utara dan Selatan saat ini. Hal ini dapat dilihat dari masyarakat benua Amerika yang sebagian besar penduduknya merupakan keturunan Eropa ataupun ras campuran bangsa Eropa.

Pertukaran Budaya

penggunaan kuda oleh masyarakat pribumi sebagai dampak columbian exchange
Sumber: Pixabay

Dampak lain dari perpindahan penduduk yang terjadi antara Old World dan New World adalah pertukaran budaya. Budaya masyarakat Eropa sedikit demi sedikit mempengaruhi cara hidup masyarakat pribumi Amerika. Sebagai contoh, konsep kepemilikan pribadi, konsep monogami, peran perempuan dan anak dalam sistem sosial, dan perbudakan mulai mempengaruhi cara hidup mereka. Pada arah sebaliknya, budaya merokok dan mengonsumsi cokelat mempengaruhi cara hidup masyarakat Eurasia dan Afrika.


Referensi:
New Worlds in the Americas: Labor, Commerce, and the Columbian Exchange. https://openstax.org/books/us-history/pages/2-4-new-worlds-in-the-americas-labor-commerce-and-the-columbian-exchange
Columbian Exchange. https://billofrightsinstitute.org/essays/columbian-exchange
The Columbian Exchange. https://ap.gilderlehrman.org/essay/columbian-exchange
Columbian Exchange. https://www.britannica.com/event/Columbian-exchange
Christopher Columbus. https://www.history.com/topics/exploration/christopher-columbus

Foto: Wikimedia Commons

Newsletter
πŸ“¬ Ikuti Newsletter kami dan dapatkan Artikel terbaru lebih awal
artikel terbaru

Komentar

Tinggalkan Balasan