Bentang Alam Eolian

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on email

Angin juga merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan perubahan geomorfologi bumi. Hembusan angin dan hubungannya dengan partikel-partikel sedimen di permukaan sangat mempengaruhi kenampakan alam di wilayah-wilayah kering dunia. Pada banyak wilayah kering dunia, aliran angin yang berhembus mampu mengangkut partikel sedimen hingga yang sangat jarak jauh. Geomorfologi eolian merupakan cabang geomorfologi yang berkaitan dengan bentukan-bentukan lahan pada area dengan angin sebagai pengaruh utamanya.

Mengenal Bentang Alam Eolian

Bentang alam eolian merupakan bentukan-bentukan lahan yang dibentuk oleh pengaruh angin. Istilahnya berasal dari Aeolus, dewa angin pada mitologi Yunani. Bentukan lahan eolian ditemukan di wilayah-wilayah dimana erosi dan deposisi oleh angin merupakan tenaga utama pembetuk kenampakan lahannya.

Geomorfologi eolian mempengaruhi mayoritas daerah arid dan semi-arid di iklim tropis dan subtropis dunia. Bentukan-bentukan lahan ini dapat ditemukan di wilayah-wilayah dengan tutupan vegetasi yang jarang, memiliki persediaan sedimen halus, dan angin kencang seperti yang dapat ditemukan pada gurun dan daerah pesisir. Selain itu, bentang alam eolian juga dapat ditemukan di lahan-lahan yang lapisan tanah atasnya sudah terganggu akibat aktivitas pertanian.

Gurun

Peta persebaran gurun
Sumber: Wikimedia Commons

Gurun menutupi lebih dari seperlima massa daratan bumi. Menurut sistem klasifikasi iklim Kรถppen, ekosistem ini mencakup wilayah-wilayah dunia dengan kategori arid desert (BW). Gurun dapat diartikan sebagai wilayah dengan kelembapan yang sangat rendah dan vegetasi yang jarang. Tidak semua gurun memiliki suhu udara yang panas, beberapa gurun juga bersuhu dingin. Gurun Sahara di Afrika Utara merupakan salah satu contoh gurun panas. Gurun panas terbesar di dunia ini suhunya dapat mencapai hingga 50ยฐ C di siang hari. Namun, juga terdapat area gurun yang selalu dingin seperti pada gurun Gobi di Asia Tengah. Akibat karakteristik kelembapannya yang juga sangat rendah, Arktik dan Antartika juga seringkali dianggap sebagai gurun.

Ekosistem gurun banyak terbentuk di sekitar lintang 30ยฐ LU dan 30ยฐ LS atau yang sering disebut dengan lintang kuda. Lintang kuda merupakan zona konvergensi dari trade winds dan westerlies. Karakteristik atmosfer pada daerah ini memiliki tekanan udara tinggi yang menyebabkan rendahnya kelembapan udara sehingga presipitasi sulit untuk terjadi. Akibatnya ekosistem gurun dapat dengan mudah terbentuk.

Ekositem gurun menjadi tempat tinggal bagi berbagai komunitas tumbuhan dan hewan yang telah beradaptasi secara khusus terhadap lingkungan keras yang ada. Flora seperti kaktus, pohon kurma, dan zaitun beradaptasi untuk menghemat cadangan air dan mengurangi penguapan di iklim yang kering. Beberapa spesies flora juga beradaptasi dengan memiliki akar yang panjang dan dapat menyimpan kandungan air pada jaringannya.

Gurun cenderung hanya memberikan sedikit perlindungan dari matahari bagi mamalia besar. Sehingga, fauna gurun didominasi oleh vertebrata non-mamalia, seperti reptil dan insekta. Mamalia gurun biasanya berukuran kecil, seperti tikus kanguru di gurun Amerika Utara. Beberapa hewan hanya aktif pada pagi dan malam hari, bersembunyi di bawah tanah pada siang hari.

Proses-proses pada Bentang Alam Eolian

Bentang alam eolian dapat terbentuk melalui proses-proses yang didominasi oleh pergerakan angin. Terdapat beberapa kondisi yang diperlukan dalam proses-proses eolian, antara lain:

  1. Pasokan pasir yang besar
  2. Angin kencang cukup untuk menggali sedimen
  3. Kapasitas angin untuk membawa beban sedimen.
  4. Halangan pada jalur angin yang membawa sedimen, sehingga deposisi dapat terjadi.

Proses eolian melibatkan erosi, transportasi, dan pengendapan sedimen oleh angin. Erosi mencakup pengikisan lapisan atas permukaan oleh angin. Transportasi membawa partikel partikel hasil erosi dan deposisi terjadi ketika angin tidak dapat membawa partikel sedimen lebih jauh lagi.

Erosi

Kemampuan aliran angin dalam mengerosi permukaan lahan ditentukan oleh 2 faktor utama, kecepatan angin dan kekasaran permukaan. Kemampuan erosif meningkat secara eksponensial dengan peningkatan kecepatan angin. Akibatnya, angin kencang mampu menyebabkan lebih banyak erosi dibandingkan angin berkecepatan lebih lambat.

Pada permukaan lahan, kekasaran permukaan berperan penting dalam mengendalikan sifat erosi angin. Adanya bongkahan batu besar, pohon, bangunan, semak, dan bahkan tanaman kecil seperti rumput dan tumbuhan dapat meningkatkan kekasaran gesekan permukaan dan mengurangi kecepatan angin. Erosi oleh angin dapat lebih mudah terjadi pada lahan-lahan kering karena pada lahan lembab, kandungan air dan vegetasi mengikat partikel tanah sehingga sulit untuk terangkat dan terbawa oleh angin.

Erosi oleh angin dibedakan menjadi 2, yaitu deflasi dan abrasi.

  1. Deflasi merupakan proses terlepasnya tanah dan partikel-partikel kecil dari batuan yang diangkut dan dibawa oleh angin.
  2. Abrasi merupakan proses penggerusan batuan dan permukaan lain oleh partikel-partikel yang terbawa oleh aliran angin. Saat partikel-partikel sedimen yang terbawa oleh angin menabrak suatu permukaan, partikel sedimen tersebut sedikit demi sedikit mengikis permukaannya.

Transportasi

Angin dapat mengangkut partikel-partikel kecil seperti silt* dan *clay hingga jarak yang sangat jauh. Pertikel yang terbawa aliran angin dapat tersuspensi selama berhari-hari lamanya. Sama seperti transportasi oleh aliran air, angin membawa partikel sebagai bed load dan suspended load. Partikel halus (silt dan clay) dibawa secara suspensi, sedangkan partikel yang berukuran lebih besar (sand) bergerak secara saltation.

Deposisi

Jika kecepatan angin yang membawa material menurun atau jika hujan turun, material-material yang sebelumnya terbawa oleh angin akan terdeposisi ke permukaan. Partikel-partikel hasil erosi dan transportasi terendapkan di wilayah lain menjauhi daerah sumber. Deposisi selalu terjadi setelah erosi dan transportasi.

Bentukan-bentukan Erosional

Melalui proses-proses erosional yang mengikis permukaan lahan, angin membentuk beberapa fitur khusus pada bentang alam eolian. Bentukan-bentukan erosional ini dapat dibagi kembali menjadi bentukan hasil deflasi dan bentukan-bentukan hasil abrasi. Cekungan deflasi, lag gravel, dan desert varnish merupakan contoh bentukan deflasi. Sedangkan ventifact, yardang, dan rock pedestal merupakan bentukan hasil abrasi. Bentukan-bentukan erosional mencakup:

Cekungan Deflasi

cekungan deflasi
Sumber: flickr

Depresi tanah gurun, yang dikenal sebagai deflation hollow terbentuk di beberapa wilayah gurun dunia. Bentukan lahan ini berupa cekungan dangkal yang tersusun dari material sedimen halus yang mengalami proses deflasi. Gurun Sahara memiliki beberapa cekungan deflasi dengan lebar beberapa meter. Depresi Qattara di Mesir merupakan cekungan depresi terbesar di dunia yang, pada titik terdalamnya mencapai 134 meter di bawah permukaan laut.

Lag Gravel dan Desert Pavement

lag gravel
Sumber: Wikimedia Commons

Seiring angin membawa partikel sedimen yang berukuran lebih kecil/halus dari pemukaan melalui proses deflasi, material lebih besar yang tidak dapat diangkat dan dibawa oleh angin akan tertinggal. Pada derah-daerah dengan angin kencang, lahan akan tertutup batuan yang lebih besar dan kerikil. Konsentrasi batuan besar dan kerikil serta partikel berukuran besar yang tertinggal setelah partikel berukuran lebih kecil dibawa oleh angin disebut dengan lag gravel.

Desert Varnish

desert varnish
Sumber: Wikimedia Commons

Batuan yang tak terlindungi di daerah gurun sering kali membentuk lapisan coklat tua atau hitam mengkilat yang disebut desert varnish. Angin mengangkut partikel seukuran clay yang bereaksi secara kimia dengan zat lain pada suhu tinggi. Lapisan tersebut terbentuk dari besi dan oksida mangan.

Ventifact

ventifact
Sumber: sandatlas

Ventifact diciptakan oleh sandblasting pada permukaan batuan yang terbuka. Pasir yang tersuspensi oleh angin mengikis permukaan batuan, menghasilkan permukaan rata dengan sudut yang tajam. Arah aliran angin yang berubah-ubah dapat menghasilkan ventifact dengan tiga sisi yang dikenal sebagai dreikanter.

Yardang

yardang
Sumber: American Geophysical Union

Selain menciptakan ventifact, erosi oleh aliran angin juga menghasilkan fitur gurun yang lebih besar yang disebut yardang. Yardang merupakan bentukan batuan streamlined yang dibentuk oleh erosi sejajar dengan arah aliran angin. Yardang terbentuk ketika material yang kurang terkonsolidasi terkikis, meninggalkan bentukan batuan dengan sisi curam dan sisi landai yang terbentuk secara linear.

Rock Pedestal

rock pedestal
Sumber: Wikimedia Commons

Rock pedestal merupakan bentukan lahan terbentuk akibat abrasi mengikis dasar struktur batuan namun tidak pada bagian atasnya. Hal ini disebabkan karena angin hanya dapat dengan efektif membawa partikel sedimen tersuspensi hingga 1-1,5 meter di atas tanah. Proses erosi ini menghasilkan struktur batuan dengan tangkai ramping pada dasarnya dan bagian yang lebih besar pada atasnya, menyerupai bentuk jamur.

Bentukan-bentukan Deposisional

Transportasi material-material sedimen oleh angin juga ditentukan oleh karakteristik ukuran partikelnya. Partikel silt dan clay yang berukuran lebih kecil dapat dibawa dan dideposisikan ke area yang lebih jauh dar partikel pasir. Hal ini menghasilkan 2 tipe bentukan deposisi oleh angin, gumuk dan loess.

Gumuk Pasir

Gumuk Pasir atau sand dunes merupakan sebuah bentukan lahan berupa gundukan pasir yang terbentuk akibat pengaruh angin, biasanya di daerah pantai ataupun gurun. Gumuk pasir dapat ditemukan dekat dengan daerah sumbernya karena aliran angin tidak dapat membawa partikel pasir lebih jauh.

gumuk pasir
Sumber: Good News From Indonesia

Gumuk pasir memiliki bentuk geometris yang beragam tergantung oleh seberapa banyak suplai pasir yang ada, kondisi angin, tutupan vegetasi, dan bentuk permukaan tanah di bawahnya. Berdasarkan bentuknya, gumuk pasir dapat dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu: gumuk barchan, parabolik, linear, transversal, dan bintang.

Loess

loess
Sumber: European Geosciences Union

Loess merupakan daerah luas yang tertutup oleh material-material halus yang terdiri dari partikel silt dan clay. Angin dapat membawa partikel silt dan clay lebih jauh dari daerah sumber dibandingkan partikel sand yang lebih besar. Akibatnya, loess dapat ditemukan hingga batasan gurun serta area sub-humid dan semi-arid yang lebih luas. Endapan loess menghasilkan lahan-lahan yang sangat subur di banyak wilayah di dunia. Ketebalan endapannya berkisar hingga beberapa meter tebalnya, namun di beberapa tempat dapat mencapai hingga beberapa ratus meter.


Referensi:

  1. Lutgens, Frederick K., et al. Essentials of Geology. Pearson, 2017.
  2. Hess, Darrell., Tasa, Dennis G. McKnight’s Physical Geography: A Landscape Appreciation. Pearson, 2017.
  3. Holden, Joseph A. An Introduction to Physical Geography and the Environment. Pearson, 2017.
  4. Desert. https://www.britannica.com/science/desert
  5. Eolian Processes and Landforms. http://www.physicalgeography.net/fundamentals/10ah.html
  6. Aeolian (Dunes) Landforms. https://www.nps.gov/subjects/geology/aeolian-landforms.htm
  7. Deserts, explained. https://www.nationalgeographic.com/environment/article/deserts
  8. Desert loess: formation, distribution, geoscientific value. https://blogs.egu.eu/divisions/ssp/2020/09/30/desert-loess-formation-distribution-geoscientific-value/

Foto: Wikimedia Commons

Newsletter
๐Ÿ“ฌ Ikuti Newsletter kami dan dapatkan Artikel terbaru lebih awal
artikel terbaru

Komentar

Tinggalkan Balasan