Sejarah Pertanian

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on email

Pertanian, yang juga dikenal sebagai Agrikultur, adalah ilmu dan seni dalam mengolah lahan, menanam tanaman, dan memelihara hewan ternak. Umat manusia telah melewati jalan panjang dalam sejarah pertanian. Teknologi pertanian saat ini sudah berkembang dengan sangat jauh bila dibandingkan dengan saat pertama kali manusia mencoba untuk mengolah lahan.

Sejarah pertanian sudah dimulai dari ribuan tahun yang lalu. Pada mulanya, umat manusia berburu dan mengumpulkan tanaman-tanaman liar sebelum akhirnya belajar untuk mengolah lahan dan menghasilkan makanan dari lahan yang sudah mereka tanam.

Sejarah pertanian dimulai dari 10.000 tahun SM di daerah Fertile Crescent. Pada masa itu, masyarakat lembah sungai Tigris dan Eufrat sudah mulai bertani dengan mendomestikasi hewan dan tumbuhan liar.

Perkembangan dalam teknologi pertanian terus berlanjut hingga saat ini dimana manusia sudah bisa menemukan metode paling efektif dalam mengolah lahan dan bahkan menghasilkan makanan dari dalam sebuah gedung.

Pertanian dalam sejarahnya dibagi menjadi empat periode perkembangan. Mulai dari masa berburu dan meramu, revolusi neolitikum (revolusi pertanian pertama), revolusi industri (revolusi pertanian kedua), Green Revolution (revolusi pertanian ketiga), hingga Evergreen Revolution (revolusi pertanian keempat).

Berburu dan Meramu

Sebelum mengenal pertanian, pada mulanya manusia kuno mengumpulkan makanan dengan berburu, menangkap ikan, memetik tanaman-tanaman hutan, dan memanen madu hutan. Masa ini dikenal sebagai masa Hunting and Gathering atau berburu dan meramu.

Hunter and Gatherer
Sumber: theguardian.com

Kegiatan pertanian masih bersifat primitif. Masyarakat pada masa ini hidup dalam kelompok-kelompok kecil dan hidup secara nomaden (berpindah-pindah).

Teknologi yang digunakan pada masa ini masih sangat sederhana. Umumnya masyarakat pada masa ini berburu menggunakan peralatan-peralatan yang terbuat dari tulang dan batu.

Walaupun praktik berburu dan meramu saat ini sudah hampir seluruhnya ditinggalkan, beberapa masyarakat di berbagai belahan dunia masih mempraktikkan berburu dan meramu sampai saat ini. Masyarakat Bushmen, Okiek di Kenya, Aborigin Australia, dan suku Inuit masih menggunakan metode berburu dan meramu dalam kehidupan mereka.

Revolusi Neolitikum

Seiring dengan perkembangan manusia dan semakin besarnya kelompok-kelompok komunitas manusia, perlahan komunitas-komunitas mulai membiakkan tanaman melalui metode selektif dan menernakkan hewan-hewan yang dulunya liar.

Masa ini dimulai sejak sekitar 12.000 tahun yang lalu di berbagai tempat di dunia. Periode ini disebut dengan revolusi neolitikum atau revolusi pertanian pertama. Pada masa ini, peradaban-peradaban awal dunia seperti Mesopotamia, lembah sungai Huang Ho, dan Mesoamerica sudah mulai mengenal domestikasi pertanian.

Domestikasi adalah sebuah metode budidaya selektif yang menghasilkan  bibit-bibit hewan/tumbuhan yang karakteristiknya sesuai dengan kebutuhan manusia. Proses domestikasi berlangsung dalam jangka waktu yang sangat lama. Salah satu contoh dari proses domestikasi adalah domestikasi gandum dari rumput-rumput liar.

Pada masa ini, masyarakat mulai hidup menetap dan mendirikan berbagai pusat peradaban serta mulai membangun kebudayaan.

Rice Field
Sumber: Pexels.com

Revolusi Industri

Terjadinya revolusi industri di Eropa juga erat hubungannya dengan perkembangan sejarah pertanian. Pada abad ke-17 hingga abad ke-19, terjadi peningkatan hasil produksi pertanian dan kenaikan drastis dalam produktivitas lahan pertanian.

Masa ini juga ditandai oleh laju pertumbuhan penduduk yang sangat tinggi. Sebagai contoh, populasi Inggris meningkat dari 5,5 juta penduduk pada tahun 1700 hingga lebih dari 9 juta penduduk pada tahun 1801. Bahkan, pada akhir abad ke-19 populasi Inggris sudah mencapai angka lebih dari 35 juta penduduk.

Peningkatan yang sangat signifikan dalam hasil produksi pertanian disebabkan oleh beberapa inovasi besar dalam teknologi pertanian. Beberapa inovasi penting pada masa ini adalah:

  • Penggunaan metode crop-rotation, lahan pertanian cenderung berkurang tingkat kesuburannya setelah bertahun tahun ditanami oleh tanaman yang sama. Metode crop-rotation mengganti tanaman yang ditanam pada suatu lahan secara berkala untuk menjaga kesuburannya.
  • Perbaikan pada desain bajak Tiongkok agar bisa ditarik oleh lebih sedikit kuda.
  • Konversi lahan, pengeringan lahan, dan reklamasi lahan
  • Teknik selective breeding

Green Revolution

Inovasi teknologi pertanian yang dikembangkan pada abad ke-20 ini menjadi basis bagi Green Revolution atau revolusi pertanian ketiga. Green revolution didasari oleh penggunaan mekanisasi pertanian secara ekstensif, penggunaan irigasi buatan dan pupuk kimia, serta perkembangan bioteknologi.

Istilah green revolution pertama kali dikemukakan oleh William Gaud, seorang direktur USAID.

Dampak dari green revolution adalah peningkatan drastis produksi pertanian, banyak ditemukannya varietas baru, teknik menurunkan kegagalan panen, dan mengatasi permasalahan kerawanan pangan.

Inovasi teknologi dan teknik pertanian ilmiah yang dikembangkan pada abad ke-20 membentuk dasar bagi revolusi pertanian ketiga. Lebih khusus lagi, revolusi pertanian ketiga mencakup mekanisasi luas, ketergantungan besar pada irigasi dan aplikasi kimia, dan bioteknologi.

Evergreen Revolution

Green revolution berdampak sangat besar dalam kemajuan teknologi dalam sejarah pertanian. Meski demikian, green revolution juga banyak berdampak buruk pada kelestarian lingkungan.

Evergreen revolution adalah usaha peningkatan produktivitas pertanian tanpa merugikan lingkungan hidup dan sosial. Revolusi hijau melibatkan integrasi prinsip-prinsip ekologis dalam pengembangan teknologi yang lebih berwawasan lingkungan sehingga dapat mencapai pertanian yang berkelanjutan

Saat ini, evergreen revolution sudah mulai meluas diterapkan di negara-negara maju seperti Taiwan, Jepang, dan Belanda.

Metode pertanian mulai kembali ke alam. Penggunaan pupuk kimia mulai dikurangi dan sebagai gantinya, pupuk organik digunakan untuk menyuburkan lahan. Penerapan irigasi dibuat agar lebih efisien. Dampak buruk pertanian seperti algae bloom pada sungai dicegah agar tidak terjadi lagi.


Referensi

Visualizing Human Geography, 2nd Edition β€” Alyson Greiner, Wiley
https://www.environmentalscience.org/history-agriculture
https://www.crestcapital.com/tax/history_of_agriculture
https://www.encyclopedia.com/plants-and-animals/botany/botany-general/history-agriculture
https://en.wikipedia.org/wiki/History_of_agriculture
https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_pertanian
https://www.ancient.eu/article/9/agriculture-in-the-fertile-crescent/
https://www.britannica.com/topic/hunter-gatherer
https://www.bbc.co.uk/bitesize/guides/zvmv4wx/revision/5
https://study.com/academy/lesson/the-agricultural-revolution-timeline-causes-inventions-effects.html

Newsletter
πŸ“¬ Ikuti Newsletter kami dan dapatkan Artikel terbaru lebih awal
artikel terbaru

Komentar

Tinggalkan Balasan