Antroposfer

Dampak Pariwisata

May 23rd, 2020

Pariwisata memiliki dampak yang sangat besar, baik dari segi Ekonomi, Sosial Budaya, maupun Lingkungan. Dampak Pariwisata dibagi menjadi dampak langsung (direct effect), dampak tidak langsung (indirect effect), dan dampak ikutan (induced effect).

Dampak langsung adalah dampak yang diberikan langsung pada industri pariwisata seperti hotel, restoran, dan perusahaan penerbangan, sedangkan dampak tidak langsung adalah dampak yang dihasilkan pada perdagangan secara umum, seperti dampak pada supir angkutan umum, perajin cenderamata, dan peningakatan pendapatan pajak. Dampak ikutan adalah dampak yang dihasilkan akibat adanya pasokan uang tambahan yang beredar di masyarakat.

Dampak Ekonomi

Manfaat Kerugian
Meningkatkan GDP Bisa mengalihkan anggaran negara dari fokus anggaran lain yang lebih penting
Pajak pariwisata meningkatkan pendapatan negara Memerlukan pembiayaan negara
Meningkatkan pendapatan devisa negara Terlalu bergantung kepada agensi asing
Masuknya investasi asing Pendapatan berkurang karena impor
Menciptakan lapangan pekerjaan Keuntungan mungkin mengalir ke luar negeri
Membantu membiayai pembangunan infrastruktur baru   Pembangunan terlalu meluas
Menstimulasi dan mendiversifikasi kegiatan ekonomi Meningkatkan kesenjangan regional
Meningkatkan aktivitas perdagangan Mengalihkan SDM dan SDA dari daerah non-pariwisata
  Tenaga tidak terlatih dan musiman
  Tenaga dan perusahaan asing mendominasi peran penting, mengurangi peluang warga lokal
  Meningkatkan harga lahan, hunian, makanan, dan pakaian

Dampak Sosial Budaya

Manfaat Kerugian
Pertukaran budaya Mungkin menyebabkan polarisasi pada daerah turis yang maju dan daerah yang kurang berkembang
Meningkatkan peran wanita di masyarakat Meningkatkan jurang antara miskin dan kaya
Mendorong perkembangan pendidikan Kedatangan budaya asing yang buruk
Mendorong perjalanan, mobilitas dan integrasi sosial Masalah sosial, pengemis, pelacuran
Memperbaiki layanan Meningkatkan risiko kesehatan, ex. AIDS
Merupakan perangsang dalam usaha pemeliharaan monumen budaya   Polusi terhadap keberadaan arsitektur tradisional  
Memberi dorongan untuk memperbaiki hidup yang bersih dan menarik   Konflik dengan komunitas warga lokal
Menghidupkan kembali budaya tradisional   Kerusakan pada artefak dan situs warisan

Dampak Lingkungan

Manfaat Kerugian
Konservasi alam Kemacetan
Perlindungan biota Rusaknya ekosistem
Regenerasi Perusakan terhadap cagar alam
Pengaturan penataan lahan dan bangunan Tekanan terhadap sumber daya lokal
  Polusi udara dan air

Britton’s Tourism Enclave Model

Model ini dikembangkan oleh Britton pada tahun 1981, model ini menjelaskan pengaruh sosial pariwisata terhadap negara-negara berkembang dan peran pariwisata dalam pembangunan ekonomi. Arus wisatawan mengalir dari negara maju (Core) ke negara berkembang (Periphery)

Operator tur / maskapai penerbangan / pemilik hotel cenderung berlokasi di Core sehingga negara-negara maju mengendalikan industri pariwisata. Model ini menyatakan adanya kantong (area dalam negara berkembang yang ditujukan untuk pariwisata) Hal ini memastikan pengunjung tidak dapat berinteraksi dengan masyarakat lokal, mereka hanya dapat memiliki kontak minimal dengan penduduk dan karenanya wisatawan hanya mendapat sedikit informasi tentang realitas kehidupan orang-orang di daerah tersebut.

dampak pariwisata-britton-s model

Doxey’s Irritation Index

Model ‘Irridex’ Doxey menunjukkan bahwa masyarakat melewati serangkaian reaksi ketika industri pariwisata berkembang di daerah mereka. Dari waktu ke waktu jumlah wisatawan akan terus meningkat sehingga akan timbul rasa kebencian/ kerisihan yang dirasakan oleh penduduk setempat akan kehadiran wisawatan.  Sikap euforia pada masa awal digantikan oleh sikap apatis, merasa terganggu, dan akhirnya antagonisme.

dampak pariwisata-doxey-s irritation index

Level of Irritation Local Responses to Tourism
1. Euphoria Wisatawan disambut hangat oleh penduduk setempat dengan persiapan yang seadanya. Wisatawan dianggap sumber ekonomi bagi penduduk setempat.  
2. Apathy  Pada tahap ini kunjungan wisatwan mulai meningkat sehingga wisatawan tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang baru bagi penduduk setempat, sehingga hubungan yang terjalin antara wisatawan dengan penduduk lokal menjadi lebih formal.  
3. Annoyance Penduduk sekitar pada tahap ini sudah mulai terganggu/ terusik akan kehadiran wisatawan. Berbagai permasalahan mulai bermunculan salah satunya yatu dampak polusi udara akibat kemacetan.  
4. Antagonism Tahap puncak ini mengakibatkan penduduk setempat mengalami kebencian terhadap wisatawan dan pertentangan terhadap sektor pariwisata karena berbagai aktivitas pariwisata dianggap sebagai penyebab terjadinya berbagai permasalahan baik permasalahan sosial, ekonomi dan lingkungan.

Referensi

Cambridge International AS and A Level Tourism — John D. Smith, Cambridge
Geography: an Integrated Approach — David Waugh, Nelson Thornes
Cambridge International AS and A Level Geography, 2nd Edition — Garrett Nagle, Hodder Education
Visualizing Human Geography, 2nd Edition — Alyson Greiner, Wiley
IB Geography Study Guide — Garrett Nagle, Oxford
https://www.pariwisata.id/pesona-pariwisata-indonesia/ 
https://en.wikipedia.org/wiki/Tourism
http://www.coolgeography.co.uk/
http://theorama.id/blog/tag/doxey/

Logo

Telusuri lebih jauh tentang manusia, lingkungannya, dan bumi yang kita pijak beserta bentang alamnya bersama Supergeografi!

© 2022 All rights reserved.