Urban Sprawl

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on email

Urbanisasi merupakan sebuah isu yang semakin penting di era globalisasi ini. Setiap tahunnya, semakin banyak masyarakat yang tinggal di wilayah-wilayah perkotaan dunia. Bukan hanya populasi pekotaan yang semakin meningkat, wilayah wilayah perkotaan juga semakin meluas. perluasaan wilayah perkotaan ini sangat erat kaitannya dengan fenomena yang biasa kita sebut dengan urban sprawl.

Apa itu Urban Sprawl?

Urban sprawl merupakan sebuah fenomena perkotaan berupa perluasan dengan cepat wilayah dan jangkauan geografis kota. Fenomena urban sprawl ditandai oleh adanya alih fungsi lahan menjadi wilayah pemukiman, komersial, dan jaringan jalan di sekitar kota (urban periphery) yang tidak terkontrol. Semakin bertambahnya penduduk kota menyebabkan semakin bertambahnya kebutuhan masyarakat terhadap lahan, maka untuk memenuhinya diperlukan suatu pengembangan atau perluasan wilayah ke daerah-daerah disekitar kota tersebut. Urban sprawl sering ditandai dengan adanya perumahan dengan kepadatan rendah, single use zoning, dan meningkatnya ketergantungan pada mobil pribadi untuk transportasi. Fenomena ini juga dikaitkan dengan peningkatan penggunaan energi, polusi, kemacetan lalu lintas dan penurunan keramah-tamahan di antara masyarakat sekitar.

Faktor-faktor Penting dalam Urban Sprawl

Secara umum, terdapat banyak faktor yang berkontribusi terhadap urban sprawl. Pola pembangunan urban sprawl pada wilayah-wilayah urban dunia banyak disebabkan oleh tingginya kebutuhan akan lahan kota untuk mengakomodasi peningkatan populasi perkotaan. Namun, peningkatan populasi perkotaan bukanlah satu-satunya faktor penyebab sprawl.

Perkembangan Perkotaan
Sumber: Britannica

Pada banyak perkotaan dunia, pertumbuhan ekonomi dan globalisasi sering disebut sebagai pendorong utama dari perluasan perkotaan dari sisi ekonomi. Urban sprawl merupakan hasil dari keinginan masyarakat untuk meningkatkan kualitas tempat tinggal mereka. Maraknya pola pembangunan urban sprawl bermula sebagai dampak dari semakin terjangkaunya kendaraan pribadi. Kepemilikan atas kendaraan pribadi memungkinkan masyarakat untuk tinggal lebih jauh dari wilayah tempat mereka bekerja demi mendapatkan lahan yang lebih luas dan fasilitas yang lebih baik dengan biaya yang lebih murah di pinggiran kota.

Berbagai ahli berpendapat bahwa perencanaan tata kota yang buruk atau maraknya penggunaan single-use zoning juga berkontribusi pada urban sprawl. Contohnya, regulasi yang diterapkan di Amerika Serikat cenderung mengarah pada single-use zoning yang membatasi pengembangan suatu area untuk satu jenis penggunaan lahan tertentu, seperti perumahan keluarga tunggal, perumahan multi-keluarga, zona komersial, kompleks institusi, atau zona industri ringan. Regulasi yang sebenarnya merupakan upaya untuk memisahkan penggunaan lahan yang “tidak sesuai” dengan satu sama lain ini cendurung mendorong terjadinya urban sprawl.

Karakteristik Urban Sprawl

Pada mayoritas urban sprawl, terdapat sejumlah karakteristik umum yang dapat membantu kita memahami dan bahkan mengukur hal-hal terkait kemunculannya. Karakteristik-karakteristik ini mencakup:

Pemukiman berkepadatan rendah

Perumahan tipikal urban sprawl
Sumber: Britannica

Terbentuknya pemukiman-pemukiman berkepadatan rendah merupakan salah satu karakteristik yang paling umum dijumpai pada area-area urban sprawl. Bentuk paling umum dari pemukiman berkepadatan rendah dapat dilihat sebagai single family housing atau perumahan keluarga tunggal yang sering kali berdiri di atas lahan yang luas, lengkap dengan halaman dan lahan parkir.

Bangunan-bangunan, baik komersial maupun residensial, biasanya memiliki lebih sedikit lantai dan memiliki jarak lebih lebar antara satu sama lain, dipisahkan oleh halaman, jalan, atau lahan parkir untuk pengguna kendaraan-kendaraan pribadi. Selain itu, pembangunan secara leapfrog juga berkontribusi terhadap pembangunan berkepadatan rendah.

Ketergantungan terhadap kendaraan bermotor

Pembangunan berkepadatan rendah yang terjadi secara sprawl menyebabkan adanya jarak yang jauh antara rumah dan memisahkan zona-zona dengan penggunaan lahan berbeda. Lahan yang ada dikembangkan secara single-use dan dipisahkan satu sama lain oleh ruang terbuka, infrastruktur, atau penghalang lainnya. Akibatnya, tempat tinggal, bekerja, berbelanja, dan berekreasi menjadi jauh dari satu sama lain sehingga penduduk terpaksa bergantung pada penggunaan kendaraan pribadi untuk mayoritas dari perjalanan yang dilakukannya. Selain itu, pola jalan yang didominasi cul-de-sac di lingkungan sprawl menyebabkan berkurangnya konektivitas dan bahkan menjadi hambatan untuk berjalan atau bersepeda ke tujuan terdekat.

Pembangunan secara linear

Ribbon development dimana pembangunan perumahan atau area-area komersial dilakukan secara linear ke arah luar dari pusat kota adalah karakteristik lain yang menonjol dari urban sprawl. Infrastruktur dibangun secara memanjang mengikuti jalur transportasi yang ada. Pada umumnya, jalur transportasi yang dimaksud adalah sistem jalan raya. Namun, pada beberapa kasus adanya rel kereta komuter juga menjadi faktor pembangunan secara linear.

Memudarnya batas wilayah urban dan rural serta konversi lahan pertanian

Pembangunan perumahan secara sprawl yang meluas ke arah luar dari pusat perkotaan cenderung mengaburkan pembagian antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Pola pembangunan ini sering dikaitkan dengan perambahan ruang terbuka dan lahan pertanian. Lahan yang digunakan untuk perluasan wilayah perkotaan sering diambil dari lahan-lahan pertanian subur yang seringkali terletak tepat di pinggiran kota, serta hutan, gurun, dan lahan terbuka lainnya.

Pembangunan Supercenter

Walmart, supercenter yang sering dibangun di wilayah-wilayah urban sprawl
Ikea, supercenter yang sering dibangun di wilayah-wilayah urban sprawl
Sumber: Wikimedia Commons

Pada wilayah-wilayah suburban hasil urban sprawl, penerapan single-use zoning berdampak pada penempatan area-area komersial yang dipisahkan dari area-area perumahan. Pusat komersial cenderung berada dekat dengan jalan raya sehingga memiliki akses kendaraan pribadi yang sangat baik. Harga lahan yang relatif murah jika dibandingkan lahan di pusat kota memungkinkan area komersial tipe ini berdiri di atas lahan yang sangat luas. Pembangunannya dilakukan secara horizontal, hanya memiliki sedikit lantai dan dilengkapi banyak ruang untuk parkir kendaraan.

Permasalahan Urban Sprawl

Meluasnya wilayah-wilayah urban dengan laju yang sangat tinggi beberapa abad belakangan ini pastinya juga memiliki dampak besar bagi alam dan juga kehidupan manusia. Dampak-dampak ini mencakup:

Dampak ekonomi

Dari sisi ekonomi, pembangunan sprawl memiliki sejumlah dampak negatif. Pembangunan yang terjadi secara leapfrog meningkatkan biaya yang diperlukan untuk menyediakan fasilitas-fasilitas publik. Pembangunan wilayah berkepadatan rendah memerlukan fasilitas penunjang seperti jaringan air bersih, drainase, pipa gas, serta fasilitas-fasilitas tanggap darurat untuk dibangun di wilayah yang sangat luas yang berarti diperlukan dana yang lebih besar.

Pola pembangunan single-use yang memisahkan daerah pemukiman dan komersial memaksa masyarakat untuk menggunakan kendaraan pribadi untuk menjangkau tempat terdekat sekalipun. Sulitnya atau bahkan tidak adanya fasilitas transportasi publik juga berarti masyarakat tidak memiliki akses terhadap sistem transportasi publik yang cenderung terjangkau. Hal ini berarti terpaksa mengeluarkan biaya besar untuk mencukupi bahan bakar yang diperlukan untuk kehidupan sehari-hari.

Berkurangnya lingkungan alami dan permasalahan lingkungan

Ecological dan physical footprint yang meningkat dari area metropolitan yang disebabkan oleh urban sprawl sering kali mengarah pada perusakan habitat satwa liar dan fragmentasi habitat alami. Meluasnya daerah perkotaan mengancam lahan-lahan pertanian produktif, mengubah lahan alami dan ruang terbuka menjadi jalan raya, perumahan, dan mal. Kondisi ini menelan lebih dari satu juta hektar taman, area pertanian, dan ruang terbuka setiap tahunnya.

Dengan berkurangnya ruang terbuka, habitat alami satwa liar menghilang digantikan oleh beton, yang pada praktiknya mengancam ekosistem penting alam. Habitat yang tersisa mengadi lebih sempit, terdegradasi dan lebih terfragmentasi. Kondisi ini membuat kelangsungan hidup spesies satwa liar tertentu menjadi terganggu. Siklus hidup alami akan sangat sulit untuk dilakukan saat mereka mencoba mencapai kolam pengembangbiakan, lokasi hibernasi, lokasi makan, atau untuk membangun kawasan bersarang yang layak pada habitat yang saling terpisah.

Urban sprawl serta meluasnya lahan perkotaan secara umum berkontribusi meningkatkan area yang kedap terhadap air. Sehingga, mengurangi volume air yang dapat mengalami infiltrasi dan masuk kedalam tanah. Akibatnya, surface run-off meningkat dan diperlukan sistem drainase yang baik.

Permasalahan transportasi

Jalan raya
Sumber: Pixabay

Rendahnya kepadatan penduduk menyebabkan sistem transportasi publik kurang efektif untuk dibangun di wilayah-wilayah sprawl. Dengan meluasnya wilayah perkotaan, masyarakat dipaksa untuk mengemudi untuk bepergian kemanapun dan menghabiskan lebih banyak waktu di dalam mobil mereka. Penduduk dari komunitas berkepadatan rendah mengemudi tiga hingga empat kali lebih banyak daripada mereka yang tinggal di daerah padat dan terencana dengan baik.

Ketergantungan yang besar pada mobil tidak hanya meningkatkan kemacetan lalu lintas dan polusi udara, tetapi juga kecelakaan mobil dan potensi cedera bagi pejalan kaki. Faktanya, kecelakaan kendaraan bermotor merupakan salah satu penyebab kematian terbesar bagi penduduk berumur 5-24 tahun.

Polusi udara dan Urban Heat Island

Daerah perkotaan terus berkembang pesat, lebih banyak waktu dihabiskan di dalam mobil dan lebih banyak kemacetan lalu lintas terjadi di daerah yang lebih luas, Kondisi ini berkontribusi pada peningkatan emisi gas rumah kaca dan penurunan kualitas udara yang signifikan di daerah perkotaan. Selain itu, permukaan bumi yang ditutupi oleh jalan raya, atap bangunan, dan ekosistem terbangun lainnya secara efektif menyerap lebih banyak panas dari matahari dan memancarkannya kembali sebagai radiasi inframerah termal. Fenomena yang sering disebut dengan Urban Heat Island ini berkontribusi meningkatkan suhu di daerah perkotaan, baik siang maupun malam hari.

Pesepeda
Sumber: Unsplash

Referensi:
Waugh, David. Geography: an Integrated Approach. Oxford University Press, 2014.
Nagle, Garrett. Cambridge International AS and A Level Geography. Hodder Education, 2016.
Greiner, Alyson L. Visualizing Human Geography. Wiley, 2014.
Rubenstein, James M. Contemporary Human Geography. Pearson, 2015.
Nagle, Garrett. IB Geography Study Guide. Oxford, 2017.
Urban sprawl. https://www.britannica.com/topic/urban-sprawl
The curse of urban sprawl: how cities grow, and why this has to change. https://www.theguardian.com/cities/2016/jul/12/urban-sprawl-how-cities-grow-change-sustainability-urban-age

Foto: Pexels

Newsletter
📬 Ikuti Newsletter kami dan dapatkan Artikel terbaru lebih awal
artikel terbaru

Komentar

Tinggalkan Balasan